Laman

Kamis, 13 Oktober 2011

Apakah Anda terlalu pintar untuk memilih?


Anda tahu bahwa Anda harus memilih dalam demokrasi sehingga Anda dapat membantu menentukan kebijakan dan pemimpin politik. Namun, argumentasi yang logis dapat dibuat bahwa jika benar-benar rasional, anda bisa untuk tidak memberikan suara.

Teori rasional dalam ilmu politik banyak didasarkan pada pendekatan yang disebut "teori pilihan rasional" atau "teori pilihan publik". teori ini mengasumsikan bahwa aktor-aktor politik yang rasional dan memperhitungkan. mereka dapat menetapkan biaya dan manfaat bagi diri mereka masing-masing, dan mereka dapat memilih strategi yang paling rasional untuk memaksimalkan manfaat relatif terhadap biaya. jika Anda telah mempelajari mekonomi makro, Anda mungkin menyadari bahwa penjelasan ini agak seperti "economic man", versi lain dari aktor yang rasional.

Dari sudut pandang pilihan yang rasional, Anda akan terlihat bodoh untuk memilih dalam pemilihan presiden. biaya yang terkait dengan pemilihan ini, setidaknya, anda akan mengeluarkan waktu dan energi untuk mendaftar, untuk sampai ke tempat pemilihan, untuk memberikan suara Anda, dan untuk sampai ke tempat berikutnya yang ingin Anda tuju. Anda juga dapat mempertimbangkan waktu dan energi yang dihabiskan untuk berusaha memahami calon yang akan menetapkan kebijakan tertentu dan untuk menghitung bagaimana Anda akan mendapatkan keuntungan dari setiap kebijakan. sekalipun Anda tidak bisa memikirkan hal yang Anda lebih suka lakukan dengan semua waktu dan energi, manfaat dari perhitungan ini lebih berat. mengasumsikan bahwa Anda cukup pintar untuk memutuskan kandidat mana yang benar-benar akan menerapkan kebijakan yang menguntungkan bagi anda. sebagai aktor yang rasional, Anda masih harus bertanya: apa kah suara saya akan membuat perubahan? dalam pemilihan nasional AS, sekitar 100 juta suara ini dilemparkan untuk presiden. kemungkinan yang akan mengikat sehingga satu suara (Anda atau orang lain) akan menentukan hasil yang sangat kecil - tentu saja kurang dari satu triliun. jadi apa gunanya pemilihan?

sejak teori mereka mengasumsikan perilaku rasional, teori pilihan yang rasional perlu menjelaskan mengapa sekitar 100 juta orang berperilaku tidak rasional. ini adalah apa yang disebut "paradoks partisipasi". mengapa orang memilih?

Pendapat yang pertama adalah bahwa suara Anda penting sebagai bagian dari kumpulan suara dari kelompok yang lebih besar yang berbagi kepentingan dengan Anda. jika semua orang dalam kelompok Anda bertindak rasional, maka kehilangan set total suara yang mungkin cukup besar untuk mempengaruhi hasil pemilu.      

 Pendapat yang kedua adalah bahwa rasionalitas pemungutan suara ini meningkatkan sedikit dalam pemilihan di mana suara hanya sedikit yang dilemparkan atau yang anda anggap hasilnya akan menjadi dekat. ini kadang-kadang benar dalam pemilu lokal, di mana batas antara kandidat dapat lebih kecil. pemilihan umum nasional baru-baru ini di AS juga telah ditandai oleh beberapa keuntungan bagi mereka

Pendapat yang ketiga adalah bahwa kebanyakan orang tidak menghitung rasional. mereka membuat banyak keputusan dalam hidup mereka (misalnya, apakah akan menikah, apakah akan mengikuti kelas, apakah akan berkendaraan sangat cepat) tanpa adanya ide yang jelas tentang biaya yang akurat dan manfaat bagi mereka.

Pendapat yang keempat adalah bahwa pemungutan suara pada dasarnya merupakan ekspresi warga negara, solidaritas sosial, dan komunikasi politik. dalam pandangan ini, Anda mungkin memilih karena Anda mencintai negara Anda dan tradisi demokrasi, atau karena Anda ingin menjadi bagian kecil dari suara besar dengan mengatakan ya atau tidak pada pemimpin politik, atau karena ingin mendapat persetujuan dari rekan-rekan Anda

Singkatnya, keputusan untuk memilih dapat didasarkan pada beberapa unsur kepentingan pribadi atau komitmen sipil. tetapi jika Anda sangat rasional dan sangat egois, pemungutan suara mungkin seharusnya bukan yang terpenting dalam agenda Anda.

Sumber: Understanding the Political Word, James N. Danziger.




Selasa, 11 Oktober 2011

reshuffle solusi atau masalah


Gonjang-ganjing reshuffle yang dihembuskan oleh bapak presiden Susilo Bambang Yudhoyono,membuat ranah politik di negara ini menjadi panas,para elite kepentingan terkait pun mulai sedikit kebakaran jenggot,entah itu para mentri itu sendiri ataukah mitra koalisi ataukah oknum-oknum di luar eksekutif , bahkan lebih mengerikan lagi kita rakyat itu sendiri ikutan heboh oleh masalah yang menurut saya "SEPELE"

Pandangan saya menanggapi reshuffle ini sangat simple,ketika seseorang presiden ingin mengganti para mentri dia seharusnya sedikit cerdas dan memerhatikan dasar atas terjadinya reshuflle,yaitu tujuan dari reshuffle, apakah akan menjadi solusi ataukah menambah daftar masalah negara ini. okelah untuk memperbaiki bangsa tapi itu hanya pandangan dari sudut pemerintah tapi sekarang kita juga punya dua elemen penting dalam perpolitikan di negara ini yaitu "media massa" dan "rakyat"

Media massa dewasa ini adalah salah satu sumber di mana masyarakat mampu terpengaruh olehnya,lewat artikel ataukah berita kontroversial bahkan berita dusta pun bisa menjadi acuan masyarakat tentang masalah politik teraktual,hingga hampir bisa jadi media massa yang subjektif itu sangat jarang bahkan saya menganggap media massa dewasa ini telah melakukan kebodohan publik (mungkin untuk media massa akan saya beri entri khusus nanti), intinya  ketika kita bicara reshuffle pasti kita akan membicarakan para calon mentri baru dan mentri lama yang akan diganti,peran media massa menghembuskan berita para mentri baru dan lama menjadi intrik khusus.dan sarat akan kepentingan entah itu yang ingin merebut kursi di kementrian atau yang ingin mempertahankan tahtanya .

Sebagai rakyat Indonesia menanggapi permasalahan ini juga harus menjadi active reading and listening.ketika negara ini berhembus berita reshuffle   kita sebagai rakyat juga harus mengkritiki apakah pemimpin yang sekarang apakah sesuai dengan yang selama ini kita suarakan di pemilu. jadi artikulasi pemilu dan demokrasi itu sudah mulai hilang.ketika rakyatnya hanya menjadi penonton ketika para pemimpinnya ribut dan masih mementingkan tahta saja tanpa memerhatikan rakyatnya yang masih banyak yang mengalami kemiskinan.

jadi kita harus sekali lagi mempertanyakan pakah ini sebuah solusi atau hanya enambah masalah saja????

-native demokrasi-

Jumat, 07 Oktober 2011

menyimak demokrasi di negeri kita

bismillah

untuk pertama kalinya saya memberi postingan ke blog saya ini,walupun masih awam mengenai dunia blog secara umum ,namun dengan mengucap basmalah dan keinginan untuk mendalami dan mempelajari demokrasi di indunesia maka dari itu saya membuat blog ini.

niat awal saya membuat blog ini di karenakan ingin tersalurkannya aspirasi  dan opini saya yang banyak sekali mengenai politik negeri kita khususnya yang terjadi sekarang ini ,sebuah keinginan yang mendalam seorang mahasiswa yang berusaha kritis dan lepas dari subjektifitas mengenai politik negeri ini walaupun subjektifitas itu pasti selalu ada di setiap diri manusia itu sendiri.

judul pertama saya ambil adalah "menyimak demokrasi di negeri kita" ,sejujurnya jika kita memerhatikan politik yang sekarang ini terjadi baik itu di TV,koran dan internet sekalipun hanya satu kata yang cocok utk semua ini "MUAK" ,mana demokrasi yang selalu di gembar-gemborkan oleh elite politik selama ini,sudah 10 tahun kita menjalankan sistem yang katanya mampu menjadi solusi untuk masalah bangsa kita ,tapi mana?????

output demokrasi itu menurut saya sudah bagus tapi pelaksanaannya jauh dari bagus,karena dijalankan para imigran-imigran yang dulunya orba menjadi demokrasi tapi pemikirannya masih saja orba oleh karena itu di butuhkan native demokrasi

NATIVE DEMOKRASI SEBUAH CIKAL BAKAL